SKENARIO By Endik Koeswoyo - COMINGSOON 2014 at THEATERS

SKENARIO By Endik Koeswoyo - COMINGSOON 2014 at THEATERS

SKENARIO By Endik Koeswoyo - 17 APRIL 2014 at THEATERS

SKENARIO By Endik Koeswoyo - 17 APRIL 2014 at THEATERS

twitter @endikkoeswoyo

Berdirilah di sampingku, agar kita bisa berjalan bersama, supaya kita bisa saling mengingatkan. Bedirilah di sampingku, agar lebih muda aku melihat senyummu -

Jumat, 23 Desember 2016

INI BUKAN SOAL TELOLET, TAPI INI SOAL MENULIS


INI BUKAN SOAL TELOLET, TAPI INI SOAL MENULIS

Oleh : Endik Koeswoyo
 

Siapa yang tidak tau Om Telolet Om? Pertanyaan sederhana yang sudah pasti kita ketahui jawabannya. Telolet sudah menjadi viral di Indonesia dan dunia, mewabah kemana-mana bak sebuah virus. Ya begitulah saudaraku semuanya, bahagia itu memang sederhana, cukup teriak “Om Telolet Om” ketika bus lewat, lalu berbunyilah klakson bus, kemudian jingkrak-jingkak girang. Sangat-sangat sederhana bukan untuk bahagia itu? Tapi hati-hati jangan sampai mengganggu lalu lintas apalagi membahayakan diri sendiri bahkan orang lain. Demam telolet boleh, ikutan telolet juga boleh, tapi sekali lagi jangan sampai menggangu kelancaran lalu lintas apalagi sampai nekat menghadang bus beramai-ramai.

Tapi tulisan ini bukan akan membahas soal telolet, tetapi tulisan ini lebih kepada bagaimana menulis dan menulis. Mencari ide menulis memang katanya susah, sudah susah-susah menulis enggak tau mau diapakan. Dan sebenarnya hambatan calon penulis ketika tidak bisa menyelesaikan tulisannya itu karena mereka tidak tau, setelah selesai mau diapakan tulisan ini? Setelah selesai mau dijadikan apa tulisan ini? Setelah kata ‘SEKIAN’ atau ‘SELESAI’ menjadi akhir sebuah naskah siapa yang akan menerbitkan? Masalah itulah yang menjadi problem para calon penulis dan para penulis. Termasuk saya kadang kala juga begitu.

Akan tetapi saudara-saudara semua! Tenang saja, menulis atau belajar menulis itu seperti belajar menabung, apa yang kita tulis hari ini belum tentu menjadi sesuatu, belum tentu langsung menghasilakan hari ini juga. Menjadi penulis itu harus sabar, seperti sabarnya kita ketika menunggu bus lewat dan meminta telolet itu. Kadang sudah lama nunggu bus pas lewat Pak Sopir nggak mau bunyiin teloletnya, kesel juga sih rasanya, tapi kalau lama nunggu tetapi akhirnya bus yang lewat berbunyi telolet kita pasti girang bukan kepalang. Begitulah menulis, harus sabar dan nanti pasti akan ada hasilnya, nanti suatu kelak pada masanya yang kita tidak tau entah kapan, bisa jadi besok atau lusa.

Tidak jarang penulis menawarkan naskah ke sana kemari berhari-hari, berminggu-minggu bertahun-tahun tidak mendapatkan hasil, tetapi nantinya pasti akan mendapatkan hasilnya. Bahkan, dalam sebulan terakhir saya menulis hampir 15 sinopsis untuk film layar lebar, ketika menulis saya yakin dari tulisan-tulisan saya yang cukup banyak itu, pasti akan ada yang cocok, pasti akan ada produser yang mau. Dan hasilnya, dalam 2 bulan ini saya menulis belasan sinopsis, setiap pagi setelah subuh saya selalu menulis sinopsis, saya kirim ke produser atau sutradara, say amenulis saya kirim ke sutradara atau produser yang saya kenal, begitulah terus menerus tanpa lelah, dan hasilnya? Seperti menunggu bus sambil teriak telolet, saya mengirim sinopsis sambil teriak dalam hati “Om terima Om, terima sinopsis saya!” Dan alhasil dua dari sekian belas sinopsis saya diterima. Girang? Jungkir balik? Ngakak guling-guling? Atau jinkrak-jingkak? Ah silahkah saja anda membayangkan sendiri, bagaimana rasanya saat nunggu bus telelolet dan anda mendapatkan suara itu, bahagianya bukan kepalang.

So? Jadi? Terus? Lalu? Semua kembali kepada kita, siapa yang banyak menulis dialah yang memilik banyak tabungan. Siapa yang banyak menulis dialah yang akan dikenang sepanjang jaman. Siapa yang banyak menulis dialah yang paling berpeluang mendapatkan apa yang dia inginkan. Menulis itu sederhana, bahagai itu juga sederhana, yang sulit adalah konsisten dan tidak mudah menyerah. Dan pagi ini, 24 Desember 2016 artikel berjudul “Ini bukan soal telolet, tapi ini soal menulis” adalah artikel kedua yang saya tulis dalam misi gerakan menulis satu hari satu artikel. Gerakan ini saya harapkan akan menjadi pemacu teman, sahabat dan saudara saya yang ingin menjadi penulis. Tema apa saja bisa dijadikan ide dasar untuk menulis, tinggal mau apa tidak? Terakhir, sebuah parikan untuk anda, “Naik bus Puspa Indah dari Malang ke Jombang, yang lain sudah bisa menulis Indah situ bisa ngapain Bang?” ---- “Numpak bis Puspa Indah katene nang Jombang, duduk manis karo gebetan! Katene nulis ojok kakean alasan, duduk manis terus lakukan!”  


***

TENTANG PENULIS
Endik Koeswoyo, penulis novel, buku dan skenario, lahir di Jombang, saat ini tinggal di Jakarta. Twitter : @endikkoeswoyo Instagram : @endikkoeswoyo Facebook : Endik Koeswoyo 

Kamis, 22 Desember 2016

Om Menulis Om (Gerakan Satu Hari Satu Artikel)



Om Menulis Om
(Gerakan Satu Hari Satu Artikel)

Budaya menulis di Indonesia masih sangat rendah, dukungan pemerintah kepada penulis juga sangat kurang bahkan bisa dibilang tidak ada. Padahal, menulis itu sebuah pekerjaan yang sangat penting dan sangat di butuhkan. Sejarah bisa ditelusuri dan dipahami juga karena adanya bukti tertulis dalam prasasti-prasasti yang ditemukan. Budaya literasi di Indonesia sekali lagi belum memenuhi standar baik itu mutu, baik itu dukungan, baik itu kualitas, baik itu kwantitas dan sebagainya, dan sebagainya.
Negara lain, tidak udah disebuah sebagai negara maju, karena semua negara sama saja, tidak ada itu negara maju atau negara berkembang, semua negara punya cita-cita sama dan berlomba menjadi negara yang baik di mata rakyatnya dan di mata dunia. Kembali lagi kepada literasi, pemerintahan di negara lain banyak yang sudah memiliki lembaga yang khusus menangani masalah buku, penulis atau sebut saja sebagai literasi. Negara tetangga kita saja, memiliki dewan buku, kerjaan mereka jelas, membantu penulis-penulis untuk menciptakan buku-buku yang bagus. Buku bagus itu yang bagaimana? Buku bagus itu yang ditulis dengan hati senang, ditulis dengan tenang, artinya penulis mendapatkan dana riset, dana penelitian, uang kopi, uang listrik, uang makan dan tetek bengeknya, emang nulis nggak perlu biaya? Penulis itu membutuhkan waktu yang tidak singkat, dalam menulis sebuah buku rata-rata penulis akan menghabiskan waktu sekitar 3 bulan, bahkan bisa 3 tahun, nah selama 3 bulan itu mereka makan apa kalau tidak ada support? Bagaimana hasil tulisan bisa bagus kalau masih mikirin makan? Bagaimana tulisan bisa berkualitas kalau untuk riset penulis harus  menyisihkan dan memetong uang jajan anak? Memangkas uang belanja istri? Mengurangi uang makan keluarga? Itu masalahnya.
Standar hidup penulis di Indonesia tidak tinggi-tinggi amat kok, penulis Indonesia ini hampir semuanya sederhana, standarnya juga simple, ketika penulis keluar rumah anak dan istri di rumah tersenyum, itu saja standarnya. Walapun profesi penulis belum bisa dijadikan sandaran hidup, tetapi banyak penulis yang berani mengambil keputusan dan sikap, sebagai penulis full time, tidak menjadikan penulis sebagai sampingan. Resikonya? Resikonya tidak ada asalkan bisa mengatur management, kapan penulis dapat uang, kapan penulis mengelola uang dan kapan penulis harus memikirkan untuk mendapatkan uang lagi dan lagi dari tulisannya. Simplenya begini, dari satu buku penulis harus memilik terget penghasilan, missal 1 buku akan menghasilkan 25 juta, maka silahkan saja dibagi berapa anda ingin digaji setiap bulannya? Anggap saja 5 juta/bulan cukup, maka 1 buku akan mencukupi kebutuhan selama 5 bulan. Kalau satu buku bisa menghasilkan 25 juta, bagaimana kalau satu buku hanya menghasilkan 3 juta saja? Maka rumusnya harus dibalik, menulislah 2 buku dalam sebulan, hehhee… bisa? Bisa saja kalau mau. Bisa tapi susah, tetapi kalau kita memiliki kemampuan menulis, maka sumber pendapatan kita bukan hanya dari buku, bisa dari cerpen atau opini di media cetak atau online. Bisa mendapatkan sumber dari situs-situs internet, bisa menjadi penulis lepas yang menulis artikel untuk online, bisa menjadi penulis bayangan, dan jangan lupa, industri menulis ada di dalam dunia televisi, iklan dan film, kalau penulis bisa masuk ke dalam dunia entertainment yang satu ini, bisa dijamin kehidupan atau keuangan akan mencukupi.
Jangan mengandalkan satu titik, fokus boleh hanya pada buku, tetapi cobalah merambah dunia literasi lainnya. Oh ya, apaan sih literasi itu? Ational Institute for Literacy, mendefinisikan Literasi sebagai "kemampuan individu untuk membaca, menulis, berbicara, menghitung dan memecahkan masalah pada tingkat keahlian yang diperlukan dalam pekerjaan, keluarga dan masyarakat." Definisi ini memaknai Literasi dari perspektif yang lebih kontekstual. Dari definisi ini terkandung makna bahwa definisi Literasi tergantung pada keterampilan yang dibutuhkan dalam lingkungan tertentu.
UNESCO menjelaskan bahwa kemampuan literasi merupakan hak setiap orang dan merupakan dasar untuk belajar sepanjang hayat. Kemampuan literasi dapat memberdayakan dan meningkatkan kualitas individu, keluarga, masyarakat. Karena sifatnya yang "multiple Effect" atau dapat memberikan efek untuk ranah yang sangat luas, kemampuan literasi membantu memberantas kemiskinan, mengurangi angka kematian anak, pertumbuhan penduduk, dan menjamin pembangunan berkelanjutan, dan terwujudnya perdamaian. Buta huruf, bagaimanapun, adalah hambatan untuk kualitas hidup yang lebih baik.
Pertanyaan lainnya, bagaimana mulai menulis? Kapan mulai menulis? Bagaimana caranya menulis? Ini adalah pertanyaan kuno, pertanyaan absurd yang sebenarnya tidak perlu dijawab. Bagaimana memulai menulis? Baca bismillah duduk manis, mulailah menulis, tidak ada cara lain selain itu? Jawabnya tidak, duduk manis dan menulislah. Kapan mulai menulis? Sekarang, ya, jawabnya adalah sekarang tidak bisa menunggu besok atau entar. Cara menulis? Bisa di ketik, ditulis tangan, ditulis dengan handphone, ya begitulah caranya. Tulislah apa yang ingin anda tulis. Contoh sederhana memulai menulis adalah dengan yang dekat dengan kita, kucing kita mungkin, kursi kita mungkin, masakah ibu kita mungkin, gelas kesayangan kita mungkin, sepatu kita juga bisa. Itinya tulislah yang dekat dan sangat mudah untuk kita pahami. Belajar menulis artikel yang sederhana, mengulas produk-produk yang kita pakai sehari-hari adalah cara paling mudah mengasah kemampuan menulis. Untuk anda yang baru memulai, belajarlah menulis artikel atau opini tentang benda-benda di sekitar anda, benda yang bisa anda sentuh dan anda lihat, sehingga mudah membuat tulisan tentang benda itu, tinggal menulisnya dengan cara yang berbeda, suka-suka anda.
Dunia sudah serba modern, bukan saatnya kita berpangku tangan kemudian membisu asik dengan gadget masing-masing, dunia sudah modern jangan hanya menjadi pembaca ponsel, tetapi maafkan media online untuk menunjukkan karya tulis yan keren. Biasakan menulis 1 hari satu artikel pendek, kalau artikel itu temanya menyambung dalam 30 hari sudah bisa jadi sebuah buku. Simple saja, menulis 2 jam sehari sangat pas untuk siapa saja, tidak perlu lama-lama, tetapi jangan juga terlalu singkat. Isu-isu yang sedang ramai dibicarakan juga bisa dijadikan tema menarik tulisan kita.
Sebenarnya arah tulisan ini mau kemana? Tergantu anda mau membawa arahnya kemana. Yang jelas tulisan ini hanya sebuah opini singkat tentang budaya literasi di Indonesia yang masih sangat kurang. Jumlah buku yang diterbitkan setiap bulannya juga masih sangat kurang, dan lagi perpustakaan dan toko buku semakin sepi, tergerus peradaban modern katanya. Padahal buku adalah jendela dunia yang harus tetap bertahan dan harus dipertahankan. Kalau saja ada 100 penulis yang bisa bersatu menghasilkan karya-karya yang luar biasa, maka pergerakan buku di Indonesia pastilah akan menanjak. Hasilnya pasti akan sangat luar biasa, apalagi ada dukungan pemerintah. Dukungan yang bagaimana? Simple, missal penulis-penulis mengajukan ide atau outline tulisan kepada lembaga pemerintah yang bertanggung jawab mengenai buku, kemudian jika ide atau outline itu memang layak diterbitkan, minimal pemerintah memberikan support dana kepada penulis, misal satu buku yang diajukan membutuhkan waktu 6 bulan, selama 6 bulan ini, penulis digaji pemerintah, dan pemerintah akan mendukung penerbit yang menerbitkan buku tersebut, didukung secara promosi salah satunya pasti akan menjadi buku yang bagus. Melihat negara tetangga, di sebelah kita, mereka sudah melakukan itu, naskah atau outline dari penulis diajukan ke dewan buku, kemudian dibaca oleh dewan buku, kalau naskah outline itu dinilai bagus, walaupun isinya mengkritik pemerintahan akan dibiayai, dari proses penelitian, penulis, penerbitan dan proses penjualan akan didanai oleh pemerintah, ini sangat menarik bukan?
Sudahlah, tidak usah bermimpi yang muluk-muluk, sekarang ini kita harus bergerak, mulailah menulis dengan menjadikan budaya membaca buku sebagai pilihan utama. Dengan banyak membaca kita akan bisa banyak menulis. 

---
TENTANG PENULIS
Endik Koeswoyo, penulis novel, buku dan skenario, lahir di Jombang saat ini tinggal di Jakarta. Twitter: @endikkoeswoyo Instagram : @endikkoeswoyo  Facebook : Endik Koeswoyo 

Selasa, 20 Desember 2016

Surga Yang Tak Dirindukan 2 TEASER



MANFAATKAN BLOG ANDA DENGAN MENGIKUTI KUMPUL BLOGER


Surga Yang Tak Dirindukan 2 TEASER

SURGA YANG TAK DIRINDUKAN 2
Jenis Film : Drama
Produser : Manoj Punjabi
Sutradara : Hanung Bramantyo
Penulis : Alim Sudio, Hanung Bramantyo, Manoj Punjabi
Produksi : MD Pictures



Pertemuan dengan Arini membuat Meirose menjadi ragu dengan pilihan hidupnya selama ini. Arini begitu tulus menyayangi dirinya dan Akbar, dan berharap agar Meirose kembali pada Pras. Mereka sudah menjadi keluarga. Apalagi ketika sosok Pras muncul dihadapannya, Meirose tidak bisa mengingkari bahwa cintanya pada laki-laki bijak itu masih ada dalam hatinya. Bahkan Arini didukung Nadia, berusaha keras menarik Meirose kembali.

Meirose bingung, maju dengan kehidupannya yang baru, yang dia sendiri tidak tahu akan jadi seperti apa, ataukah mundur pada kehidupannya yang lama, yang ingin dia tinggalkan selama ini, tapi menjanjikan hal yang lebih pasti bagi masa depannya?

Ada apa dibalik motivasi Arini yang menggebu-gebu meminta Meirose kembali dalam kehidupan rumah tangganya yang sudah harmonis selama ini?

Apa yang akan dilakukan Pras, akankah dia kembali menerima Meirose? Sementara, dia meragukan kemampuannya untuk bersikap adil sebagaimana yang diwajibkan Allah pada laki-laki yang memilih berpoligami?

Siapa juga Dokter Syarief(Reza Rahardian) yang tiba-tiba hadir di tengah-tengah persoalan mereka?

Lalu mengapa surga itu tiba-tiba menjadi dirindukan sekarang?

Film Indonesia The Chocolate chance



MANFAATKAN BLOG ANDA DENGAN MENGIKUTI KUMPUL BLOGER


THE CHOCOLATE CHANCE
Jenis Film : Drama, Romantis
Produser : Johansyah Jumberan
Sutradara : Jay Sukmo
Penulis : Johansyah Jumberan
Produksi : darihati FILMS

Dari sudut sebuah cafe cokelat,
menyajikan manis pahit cinta…
Ini kisah tentang tiga hati yang dipertemukan secangkir coklat hangat…
Berusaha untuk saling menjaga,
menahan untuk tidak saling menorehkan luka…
Kepada siapa hati harus diletakan…

Menceritakan Orvala Theobroma ( Pamela Bowie), perempuan pecinta cokelat. Bahkan namanya pun beraroma cokelat. Salah satu impian Orvala adalah bekerja dalam hal yang berhubungan dengan coklat Impiannya terwujud ketika bertemu Aruna Handrian (Miqdad Addausy), kekasihnya yang mengajak Orvala untuk bergabung mengelola sebuah kafe coklat, Fedde Velten Cafe, yang berkonsep Eropa.

Di Fedde Velten Cafe Orvala bertemu kembali dengan Juno Aswanda (Ricky Harun) kekasihnya di masa lalu yang menghilang tanpa kabar berita. Juno menginginkan Orvala kembali, meminta kesempatan kepada Orvala untuk kembali kepadanya. Cinta segi tiga pun mulai muncul antara Orvala, Aruna dan Juno. Kehadiran Fidela (Sheila Dara Aisya) di Fedde Velten Cafe sebagai sosok cinta Aruna di masa lalu menambah rumit permasalahan.

Orvala harus bisa memutuskan kepada siapakah hati akan diletakan, Aruna atau Juno?

Jones Jomblo Ngenes



MANFAATKAN BLOG ANDA DENGAN MENGIKUTI KUMPUL BLOGER


JOMBLO NGENES

79 minutes
Jenis Film : Romantic, Comedy
Produser : Raam Punjabi
Sutradara : Sridhar Jetty
Penulis : Sridhar Jetty
Produksi : MVP Pictures


Jatuh cinta sejuta rasanya, itulah yang disadari Noval (19) saat ia bertemu Astika (18). Tapi di antara suka, cita dan bahagia, ada pula rasa sakit, miris, nyesek dan rasa lainnya yang pedas, ibarat tamparan, menyertai.

Jutaan rasa itu dimulai saat Noval bertemu Astika. Itikad menolong Astika, Noval berkali-kali terjerumus di situasi di mana Astika memperdayainya. Astika yang ceria bagai lentera di pesta dan lepas nyablak bagai layang-layang di angkasa, meminta Noval berbuat dan berkata aneh-aneh di berbagai situasi menggelikan. Tidak hanya harus menanggung malu, Noval pun sering kena getah menerima tamparan. Noval bisa saja pergi menjauh, tapi bagai magnet, pesona Atika membuatnya tak bisa meninggalkannya.

Berkali-kali Noval meladeni Atika dan berkali-kali pula beban permintaan aneh-aneh dipinta Atika padanya. Semua dilakukan Noval yang keburu baper, demi Astika.

Noval berencana menyatakan cintanya pada Astika. Tanpa disangka, di momen paling penting itu Astika malah menceritakan bahwa pacarnya, Nico, akan kembali setelah 100 hari hilang. Nasib sial Noval, menunda menyatakan cintanya, justru sampai di hari saat cinta lama Astika kembali.

Akankah tamparan yang paling dahsyat dari Astika ini membuat Noval mundur? Atau justru membuat dirinya makin ulet memperjuangkan cintanya?

The Last Barongsai



MANFAATKAN BLOG ANDA DENGAN MENGIKUTI KUMPUL BLOGER


The Last Barongsai

Produser Rubby Karno
Sutradara Ario Rubbik
Penulis Titien Wattimena, Rano Karno
Pemeran Tio Pakusadewo, Dion Wiyoko, Aziz Gagap, Rano Karno, Hengky Solaiman, Furry Citra Dellina, Vinessa Inez
Tanggal edar Thursday, 26 January 2017



Sinopsis

Kho Huan memegang surat undangan kejuaraan yang terus datang setiap tahun, namun ia tak tertarik untuk membacanya. Anaknya, Gunadi alias Aguan, membaca surat di tangannya. Surat pemberitahuan bahwa permohonannya untuk mendapatkan beasiswa dari Nanyang University di Singapura diluluskan. Kho Huan girang mendengar kabar gembira itu. Aguan berhenti kuliah karena tak ada biaya. Kho Huan langsung berpikir keras supaya anak lelakinya itu bisa ke Singapore dan melupakan surat undangan kejuaraan barongsai. Biaya, ayahnya dan adik yang sangat disayanginya, serta sanggar Barongsai yang merupakan warisan yang menahannya. Kho Huan berpikir keras supaya anak lelakinya itu bisa bersekolah ke Singapura dan menjemput mimpinya. Ia segera melupakan surat undangan kejuaraan barongsai tadi. Aguan akhirnya mengajak Kho Huan untuk ikut kejuaraan itu, karena hadiahnya bisa dipakai untuk biaya hidup selama kuliah di Singapura. Kho Huan tersentak. Ia tetap tak setuju. Aguan memilih meneruskan tradisi Barongsai.
Catatan

Adaptasi dari novel berjudul sama karya Rano Karno.

Film Salawaku



MANFAATKAN BLOG ANDA DENGAN MENGIKUTI KUMPUL BLOGER


Salawaku

ProduserRay Zulham, Michael Julius
SutradaraPritagita Arianegara
PenulisIqbal Fadly, Titien Wattimena
PemeranKarina Salim, Raihaanun, JFlow Matulessy, Elko Kastanya, Shafira Umm


Sinopsis

Perjalanan Salawaku dan Saras yang berbeda usia, berbeda kepentingan, dan berbeda sifat dimulai. Lalu muncul Kawanua, kakak angkat Salawaku, yang menyusul Salawaku. Salawaku menerima Kawanua dalam perjalanan mereka karena percaya pada lelaki tersebut. Kebaikan Kawanua membutakan mata Saras dan Salawaku. Saras perlahan melupakan patah hatinya dan mengalihkan perhatiannya pada Kawanua. Salawaku menyadari mereka menjauhi Piru, kota dimana kabarnya kakak Salawaku yaitu Binaiya berada. Berbagai konflik menyertai perjalanan mereka sebelum bertemu Binaiya.
Catatan

Tayang pertama dunia di seksi Asian Future, Tokyo International Film Festival 2016.